Kenangan Bulan Ramadhan di Inggris 2017


Berpuasa 19 Jam Lamanya, Hingga Berbuka Puasa dengan daging Kuda

Menjalani puasa di negeri orang selalu meninggalkan cerita tak terlupakan. Mulai dari harus menjalani durasi puasa lebih lama, merasakan susahnya mencari takjil khas Indonesia, sampai berbuka dengan teman beda negara. Berikut laporan saya  dari Newcastle, Inggris.  

ecf8d47138b060ae9323dfe8689c85cf

Berbuka puasa bersama teman-teman dari Kazakhstan. Dari kiri ke kanan: Zebeika, saya, Nara, Zarina.

Di Kota Newcastle, Inggris, tempat saya belajar saat ini, matahari baru terbenam pukul 21.49 malam waktu setempat. Sementara fajar datang  sejak pukul 02.40 dini hari. Hal itu membuat umat muslim di kota ini harus berpuasa selama 19 jam lamanya dan hanya memiliki waktu sekitar lima jam untuk berbuka puasa, sholat tarawih dan sahur.

Cukup menantang. Apalagi saya harus berpuasa di tengah mayoritas orang yang tidak berpuasa. Jangan harap akan menemui restoran yang ditutup rapat dengan tirai saat siang hari seperti di Indonesia selama ramadan. Iklan sirup bertebaran di televisi, lantunan tadarus dari pengeras suara masjid, atau jajaran orang berjualan kolak pisang dan gorengan di pinggir jalan menjelang berbuka adalah hal yang senantiasa saya dan teman-teman muslim Indonesia rindukan selama di Inggris.

Selama menjalani ibadah puasa hampir satu bulan lamanya, saya juga harus siap dengan bertubi-tubi pertanyaan dari teman-teman asal Inggris maupun teman dari berbagai negara tentang kenapa saya berpuasa.  Biasanya responnya ada dua saat mereka tahu bahwa saya tidak makan dan minum selama 19 jam. Mereka akan bertanya setengah tidak percaya dengan mengatakan “Not even drink?” atau meminta saya menjelaskan apa makna dan tujuan puasa. Apalagi saya adalah satu-satunya orang yang berpuasa di kelas saya. Seringkali saya harus ikut bekerja kelompok atau sekedar ngopi-ngopi tanpa memesan kopi atau makanan sekalipun.

Waktu berbuka puasa tentu saja menjadi waktu yang selalu dinanti saat berada di sini. Kami berbuka puasa di saat semua pertokoan maupun restoran-restotan di Newcastle sudah tutup dan  mayoritas orang di Inggris sudah pulang ke rumahnya untuk beristirahat.

Ada beberapa hal yang biasanya  kami, pelajar Indonesia lakukan untuk berbuka puasa. Untuk mengobati rindu pada suasana ramadan di kampung halaman, saya dan teman-teman sering mengadakan acara buka bersama bergantian. Dimana kami sering memasak makanan Indonesia yang kami rindukan mulai sate, soto, bakwan, ayam penyet, gudeg atau rendang. Berbuka puasa di mushola kampus Newcastle University atau masjid lokal Newcastle Central Mosque yang terletak di Fenham Newcastle, juga menjadi opsi.

Di situ biasanya kami berbuka dengan makanan khas negara middle east seperti kebab, nasi briyani, kari,  samosa dan masih banyak lagi. Kami memakannya bersama dengan umat muslim dari berbagai negara mulai Pakistan, Arab Saudi atau bahkan umat muslim asli Inggris. Terkadang, saya juga mendapatkan undangan berbuka puasa di rumah teman muslim beda negara.

Momen berbuka puasa pada hari Sabtu (17/6) lalu contohnya. Saya mendapatkan undangan spesial berbuka puasa di rumah salah satu teman yang berasal dari Kazakstan. Bagi saya pengalaman itu menjadi salah satu  yang tidak terlupakan selama saya menjalani puasa di Inggris. Hampir sama dengan Indonesia, Kazakztan adalah negara yang mayoritas pendudukanya juga merupakan umat Islam. Mereka juga punya budaya yang menarik saat ramadan salah satunya selalu berbuka puasa dengan menyantap makanan khas negara mereka yang dimasak dari daging kuda. Kali ini saya berkesempatan untuk ikut menyantapnya.

Saya ikut menyantap hidangan khas Kazakztan bernama Beshbarmak. Makanan khas ini terbuat dari daging kuda yang sudah direbus hingga empuk,  dibumbui dengan garam dan merica dan disajikan bersama kentang, bawang bombai, dan rice paper. Mereka juga punya takjil khusus bernama Kurt, makanan khas Kazakztan yang terbuat dari susu dan garam yang dikeringkan. Meski rasanya sangat kuat dan kurang cocok di lidah saya, namun saya suka mencobanya.  Selepas menyantap hidangan utama berbuka ala Kazakztan saya juga  mencicipi teh khas Kazakztan.

Meski menjadi satu-satunya orang Indonesia dalam acara buka bersama tersebut, saya diperlakukan dengan sangat baik. Teman saya mengatakan “You just have to sit and eat, because this is the way how we treat people”. Momen berbuka puasa di rumah teman yang berasal dari negara berbeda selalu memberikan satu pelajaran budaya. Kami bertukar cerita tentang bagaimana tradisi ramadan dan Hari Raya Idul Fitri di Kazakztan dan Indonesia.

Berpuasa di negera lain memang sangat menantang tapi juga mengajarkan saya tentang bagaimana bertoleransi. Bukan toleransi meminta orang membatasi kegiatan makan dan minum saat berada di depan saya, namun justru lebih  menghormati orang yang tidak berpuasa.


Tulisan ini juga termuat di Koran Memo beberapa hari sebelum hari raya. Dimuat di sebuah  koran lokal dengan sirkulasi pembaca di Wilayah Se-Karesidenan Kediri. Biar orang-orang di daerah, terutama orang Trenggalek  juga bisa tahu potret berpuasa ala mahasiswa Indonesia di Inggris seperti apa.

image

Advertisements

One thought on “Kenangan Bulan Ramadhan di Inggris 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s