Bantar Gebang – The Land of Survival

Bertaruh Hidup di Bantar Gebang

Siang itu mendung bergelayut manja di atas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi. Namun pekatnya cuaca tidak menyurutkan ramainya suasana TPST yang menampung semua sampah dari ibukota Jakarta sejak tahun 1989 itu.

Lima buah alat berat, backhoe, terlihat sedang memindahkan sampah secara estafet dari bawah ke atas gunung sampah berketinggian sekitar 30-40 meter itu. Di sekitar backhoe, para pemulung bergerak kesana-kemari mencari sampah, dengan hanya bermodalkan sepatu boots, ganco, keranjang, dan kebanyakan bertelanjang tangan. Serbuan lalat, bau sampah yang menyengat, dan gerakan alat berat, tidak menjadi penghambat.

Bagi para pemulung di TPST Bantar Gebang, profesi yang mereka geluti mereka akui merupakan profesi yang beresiko tinggi. Apes sedikit, nyawa taruhannya. Sampah yang longsor, hantaman alat berat, paparan penyakit, hingga goresan benda tajam dari tumpukan sampah bisa menimpa mereka kapan saja.

Darka, 62 tahun, adalah salah satu pemulung yang pernah merasakan kerasnya tempaan TPST Bantar Gebang. Laki-laki asal Indramayu ini pernah menjadi korban hantaman bulldozer saat tengah mengais sampah di TPST itu pada tahun 1993.

“Bagian pinggang belakang saya hancur waktu itu terlindas bulldozer. Saya sembilan bulan cuma bisa tidur, enggak bisa apa-apa, sebagian daging dan bagian tulang saya hilang,” ujar Darka yang tinggal di rumah triplek di Kampung Rawa Butun, Ciketing Udik, 500 meter tak jauh dari lokasi bukit sampah.

“Rumah, tanah semua habis dijual untuk saya berobat. Saat itu dokter bilang kalaupun hidup paling ya lumpuh. Cuman karena mukzizat aya masih bisa hidup sampai sekarang ” ujarnya sambil menunjukkan bekas luka di lingkar pinggannya yang dalam dan memanjang.

Darka, bukan satu-satunya pemulung yang pernah mengalami kecelakaan kerja di kawasan TPST Bantar Gebang. Sejumlah kecelakaan yang memakan korban jiwapun sering terjadi. Pada awal tahun 2017, seorang pemulung tewas akibat tertimbun sampah buangan dari truk. Pada awal tahun 2016, dua orang pemulung tewas karena longsornya sampah. Mundur di tahun 2006, tiga orang dinyatakan tewas dan puluhan pemulung luka-luka akibat bencana yang sama. Bukit sampah yang setiap harinya harus menampung 7000 ton residu dari Jakarta tersebut memang rawan longsor, apalagi saat musim hujan tiba.

Lalan (48) adalah salah satu yang selamat dari kejadian longsor di TPST Bantar Gebang beberapa tahun lalu. “Waktu itu sebelumnya ada gempa bumi. Setelah itu tumpukan sampah longsor, retak. Udah kayak ombak turun ke bawah sampah itu. Waktu itu saya masuk ke lobang air yang muncul karena retakan sampah, saya beruntung bisa selamat karena bisa renang ke atas,” ujarnya.

Sementara itu Karyadi, 48, yang menjadi pemulung sejak berusia tujuh tahun mengatakan bahwa bekerja sebagai pemulung pada dasarnya memang soal bertahan.di tengah banyaknya cobaan keras di lapangan.

“Kita kalau mulung kalau enggak ahli atau takut-takut aja ya bisa enggak dapat apa-apa, bisa kena ganco saat rebutan sampah, jadi harus kuat,” ujar Karyadi yang biasa menghasilkan Rp 100.000,- per hari dari hasil memulung sampah.

Karyadi sendiri mangatakan meskipun dirinya sudah menggunakan pakaian dan sepatu boots yang cukup tebal, dirinya tak lepas dari bahaya di lapangan.“Saya pernah kena beling, tusuk sate sampai jarum suntik. Wah jarum suntik itu yang paling sakit, bikin bengkak dan infeksi selama berhari-hari,” ujarnya.

Meskipun rangkaian peristiwa yang mengancam keselamatan jiwa kerap terjadi di TPST Bantar Gebang, hal itu tidak membuat para pemulung di situ jera untuk mengais rejeki di sana. Kembali ke TPST tetap menjadi opsi, mengingat susahnya mencari pekerjaan lain.
“Saya kembali lagi ke buangan buat mulung tahun 1996. Ya gimana lagi, saya enggak sekolah, susah cari kerja,” ujar Darka, yang hanya sempat mengenyam pendidikan pondok pesantren.

Di luar resiko yang menghantui para pemulung setiap hari, keberadaan para pemulung di TPST Bantar Gebang sebenarnya berperan besar dalam proses pengelolaan sampah di Jakarta. Di tangan merekalah, sampah-sampah yang bercampur baur jenisnya ini bisa sedikit terpilah. Setidaknya sampah dengan bahan dasar yang tidak mudah terurai seperti plastik dan aluminium bisa dipisahkan dari sampah makanan dan kemudian bisa didistribusikan ke pabrik pengolahan dan pendaur-ulang sampah.

Di tengah stigma negatif yang sering dilabelkan untuk para pemulung, justru pemulunglah yang selama ini membantu masyarakat dalam memanajemen sampah. Selama budaya membuang sampah dan manajemen pembuangan sampah di Jakarta tetap buruk, masyarakat tetap berhutang jasa pada pemulung dan keahlian mereka dalam memilih dan memilah sampah untuk daur ulang. Maka sudah seharusnya negara membantu melindungi keberadaan dan keselamatan pemulung.

Pengadaan BPJS kesehatan bagi para pemulung yang dicanangkan oleh pemerintah DKI Jakarta memang bisa membantu beban para pemulung yang terkena musibah. Namun hal itu tidak akan menyelesaikan sumber masalah. Keselamatan kerja para pemulung di lapangan tetap terancam jika tidak ada perbaikan dari segi pembuangan sampah.

Dimulainya penerapan aturan pemilahan sampah dari rumah tangga, bisa menjadi solusi dan bisa memudahkan pemulung di lapangan saat memilih sampah. Setidaknya mereka tidak perlu lagi mencari sampah plastik rumah tangga di tumpukan sampah rumah sakit seperti jarum suntik. Pengklusteran landfill berdasar jenis sampah seperti sampah plastik, makanan, kertas dan aluminium, juga bisa meringankan proses memilah sampah oleh para pemulung di lapangan.

Di masa depan saat Indonesia sudah memiliki sistem manajemen sampah yang lebih memadai dengan lebih banyaknya insinerator sampah dan pabrik pengolahan sampah, bukan tidak mungkin para pemulung yang memiliki keahlian memilah-milah jenis sampah ini bisa diperkerjakan. Tentunya dengan pendapatan dan jaminan keselamatan kerja yang lebih layak dan aman.

 

*Ditulis setelah saya menjalani 3 hari live-in experience di salah satu rumah pemulung di Bantar Gebang. Three days..forever. 

Riza.

 

 

Advertisements

Tired

Akhirnya tiba juga masa dimana kamu merasa percuma dan sia-sia saja untuk bercerita kepada orang-orang soal apa masalahmu, apa yang mengusik hatimu, apa yang membuatmu sedih. Even your closest family, friend, even partner. Karena mereka toh tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi kamu. Apa yang kamu inginkan, apa yang kamu butuhkan.

Simply. Because people do not listen, they just focus on technical story, technical solution, technical suggestion. They do not listen to understand, they do listen to reply..

Right now, the only thing I want is just going back to Newcastle, attending my graduation, and hoping that I can stay there longer. The feeling of freedom, far away from home, far away from people, and just be yourself, be who you are, without people keep on judging around you.. is the best thing ever.

Im tired.

Just tired.

NCL

Missing Newcastle,

its Fall,

its weather,

its people,

its Quayside,

its Quilliam Brothers,

its city centre,

its ambience,

its nuance,

its romance,

NCL..

Jakarta,

3 November

2017.

(Post) Postgraduate “Jakarta”

Hampir satu bulan saya kembali ke Indonesia. Rasanya cepat, tidak terasa.. karena banyaknya hal yang harus dilakukan.  Semua terasa padat dan rasanya sedikit tergesa.

Ya, sejak kembali lagi ke tanah air tanggal 16 September lalu, saya tidak punya cukup waktu untuk sekedar bernafas lega sambil berleha-leha atau berkuliner ria. Apalagi mengambil waktu plesir ke Pulau Dewata, seperti yang dilakukan beberapa teman setelah pulang ke Indonesia.  Bahkan masih belum banyak teman yang tahu kalau saya sudah pulang kampung. Sebagian protes “kenapa nggak bilang?”, sebagian lagi mengatakan “ah kamu sombong”.

Padahal sesungguhnya…banyak yang harus dilakukan setiba di sini. Nggak mudah juga untuk settling in langsung di Jakarta ..saat kamu tidak punya saudara atau tempat tinggal di Jakarta dan kamu harus mencari tumpangan tinggal atau kos-kosan sementara. But life is not easy after all haha. All you have to do is..to be tough and tougher.

Satu hari setelah tiba di Jakarta saya harus menjalani beberapa tahapan tes terkait pekerjaan termasuk wawancara, psikotest hingga medical check-up.  Karena waktunya terlalu mepet rasanya cukup melelahkan.

Moreover  when you have to solve hundreds of psikotest questions in the middle of  “jetlag”, it’s disastrous :). But I have passed it anyway regardless the result  is good or not.

Kadang saya bertanya-tanya “Ini keputusan buat langsung kerja bener apa engga?”. Dan mungkin benar kata Adi.

Apa yang kamu dapat sekarang mungkin sama seperti yang pernah kamu niatkan. Aku masih inget kamu pernah bilang kalau kamu nggak pengen ada waktu nganggur setelah lulus, kamu pengen langsung sibuk” katanya. Kata Adi yang lebih semangat dan dukung 150% saya di The Jakpost. He is more excited than me anyway.

So yeah, here I am now.. sitting in front of my laptop in a room I rent in the West of Jakarta. Officially moving to Jakarta. And I start my training at The Jakarta Post this month.

I feel grateful to get a job offer after finishing my postgraduate study. At least I dont need to have “nothing-to-do-period” after a-year-off from the hustle bustle of working world. But I hope  this is the best decision I’ve made.   

Jakarta,

10 – 10 – 2017

IMG_6512

Life choices is like directions to some places. While the places  are  like life goals. All places is good.. but some need longer time to be reached, some just need shorter time. The direction and place I choose now is maybe one of the further one and needs longer time to go. But you now.. The more steps you take, the stronger foot y’ll have.  And after all it’s just how to be a “stronger” person.

Life is…

Life is just like this.
Whether you love yours or not, you have to go through it. You cannot keep expecting that your life in the future will be better, will be more exceptional, awesome.. you cannot put too much expectations to what will happen next but then you forget how to enjoy the present.

Life is about now..
Future is not the real life.. it is hope, prayer, effort, and hard work.
Yes we fight for the future
Hopefully for the better one
But.. don’t forget to enjoy your life now
It’s the way to appreciate yourself, thankful to yourself, and grateful to everything that happened in your life and what you got in your life.

Enjoy it..
life is ..something just like this.

And one more thing..
You have to remember that we were born as a beautiful human being
Don’t let others convince you that you’re not!

Live your life
And love yourself❤️

The Best Thing I Got in Newcastle

“You know..I really like to be in this group. It’s like brotherhood” Juan said to me few days ago when we’re eating chicken and fries in Chicken Cottage. We’re talking about how we (six random person from six different nations) can have a very good friendship like this.

I couldnt agree more with Juan.

I remember  the first month I started my study in Newcastle. I was not that optimistic that I would have a very close friendship. Yeah.. I did believe that I could be friend with other international students. But being this close..I never expected it.

….. Back to the Chicken Cottage

I ate three pieces of chicken, while Juan  ordered three chicken strips. Chicken Cottage again. Yes. some people in our group to be exact, have a love-hate relationship with Chicken Cottage. The place where we can buy cheap fried chicken,  chicken strips, and other related-chicken meal.

At the same time, Marina and Zarina were walking around Jesmond Dene. Photo hunting for another website group work. Marina asked us to go to an Italian restaurant in around Jesmond. But me and Juan who craved for chicken that day just wanted to eat chicken and just so lazy to walk to Jesmond. We wanted to eat chicken. That’s perfect. Even though Marina said that there are many tempting menu in the restaurant.We wanted chicken cottage. That’s all.

At the same time,  Nicky and Xiaofeng were heading to Jesmond from their accommodation, Leazes Terrace. They said yes to eat Italian food with Marina and Zarina.

We’re different…there are many situations that we’re just stuck because of our differences. But still, we’re  good friends.

It is so often that I feel  so comfortable to be with them. When we’re talking or discussing a deep or heavy  topic for example…we feel so connected to each other. It’s like discussing with my very close Indonesian friend…and it’s the same. The comfortable feeling is the same.

What I like the most from International friendship is..we  feel the same. Maybe because we come from different backgrounds, different frame of references and difference experiences… we can easily feel that we are the same as a human. No one feel superior, greater, higher than others. We’re just  the same. And it makes the communication or discussion is equal.

We are six person..from six different nations..

and I have a very good impression about them.

I will miss the moments with them, here in Newcastle.

I will miss random talk with Juan while eating Chicken in Chicken Cottage and listening to his disbelief to”why I love bubble tea that much”

I will miss my ritual with Marina, eating Monk Fish in Wok In, the best Chinese Restaurant in Newcastle (according to both of us). Will miss chicken hunting with marin.

I will miss sitting on the Leazes Park grass while listening to Xiaofeng and Nicky talking about so many random things.. and how we love teasing Xiaofeng for being a “normal Chinese”.

I will miss Zarina..the strongest pregnant women I’ve ever seen.She doesnt know how I adore her for being that strong and tough while bringing her almost eight-months baby in her belly. I always compare her to most of my  pregnant friends in Indonesia who tend to be so pampered while pregnant. But Zarina…she’s so tough.

Well..absolutely they  will be one of my hardest goodbye in Newcastle

I will miss the moments with them, here in Newcastle.


IMG_5269

Kenangan Bulan Ramadhan di Inggris 2017

Berpuasa 19 Jam Lamanya, Hingga Berbuka Puasa dengan daging Kuda

Menjalani puasa di negeri orang selalu meninggalkan cerita tak terlupakan. Mulai dari harus menjalani durasi puasa lebih lama, merasakan susahnya mencari takjil khas Indonesia, sampai berbuka dengan teman beda negara. Berikut laporan saya  dari Newcastle, Inggris.  

ecf8d47138b060ae9323dfe8689c85cf

Berbuka puasa bersama teman-teman dari Kazakhstan. Dari kiri ke kanan: Zebeika, saya, Nara, Zarina.

Di Kota Newcastle, Inggris, tempat saya belajar saat ini, matahari baru terbenam pukul 21.49 malam waktu setempat. Sementara fajar datang  sejak pukul 02.40 dini hari. Hal itu membuat umat muslim di kota ini harus berpuasa selama 19 jam lamanya dan hanya memiliki waktu sekitar lima jam untuk berbuka puasa, sholat tarawih dan sahur.

Cukup menantang. Apalagi saya harus berpuasa di tengah mayoritas orang yang tidak berpuasa. Jangan harap akan menemui restoran yang ditutup rapat dengan tirai saat siang hari seperti di Indonesia selama ramadan. Iklan sirup bertebaran di televisi, lantunan tadarus dari pengeras suara masjid, atau jajaran orang berjualan kolak pisang dan gorengan di pinggir jalan menjelang berbuka adalah hal yang senantiasa saya dan teman-teman muslim Indonesia rindukan selama di Inggris.

Selama menjalani ibadah puasa hampir satu bulan lamanya, saya juga harus siap dengan bertubi-tubi pertanyaan dari teman-teman asal Inggris maupun teman dari berbagai negara tentang kenapa saya berpuasa.  Biasanya responnya ada dua saat mereka tahu bahwa saya tidak makan dan minum selama 19 jam. Mereka akan bertanya setengah tidak percaya dengan mengatakan “Not even drink?” atau meminta saya menjelaskan apa makna dan tujuan puasa. Apalagi saya adalah satu-satunya orang yang berpuasa di kelas saya. Seringkali saya harus ikut bekerja kelompok atau sekedar ngopi-ngopi tanpa memesan kopi atau makanan sekalipun.

Waktu berbuka puasa tentu saja menjadi waktu yang selalu dinanti saat berada di sini. Kami berbuka puasa di saat semua pertokoan maupun restoran-restotan di Newcastle sudah tutup dan  mayoritas orang di Inggris sudah pulang ke rumahnya untuk beristirahat.

Ada beberapa hal yang biasanya  kami, pelajar Indonesia lakukan untuk berbuka puasa. Untuk mengobati rindu pada suasana ramadan di kampung halaman, saya dan teman-teman sering mengadakan acara buka bersama bergantian. Dimana kami sering memasak makanan Indonesia yang kami rindukan mulai sate, soto, bakwan, ayam penyet, gudeg atau rendang. Berbuka puasa di mushola kampus Newcastle University atau masjid lokal Newcastle Central Mosque yang terletak di Fenham Newcastle, juga menjadi opsi.

Di situ biasanya kami berbuka dengan makanan khas negara middle east seperti kebab, nasi briyani, kari,  samosa dan masih banyak lagi. Kami memakannya bersama dengan umat muslim dari berbagai negara mulai Pakistan, Arab Saudi atau bahkan umat muslim asli Inggris. Terkadang, saya juga mendapatkan undangan berbuka puasa di rumah teman muslim beda negara.

Momen berbuka puasa pada hari Sabtu (17/6) lalu contohnya. Saya mendapatkan undangan spesial berbuka puasa di rumah salah satu teman yang berasal dari Kazakstan. Bagi saya pengalaman itu menjadi salah satu  yang tidak terlupakan selama saya menjalani puasa di Inggris. Hampir sama dengan Indonesia, Kazakztan adalah negara yang mayoritas pendudukanya juga merupakan umat Islam. Mereka juga punya budaya yang menarik saat ramadan salah satunya selalu berbuka puasa dengan menyantap makanan khas negara mereka yang dimasak dari daging kuda. Kali ini saya berkesempatan untuk ikut menyantapnya.

Saya ikut menyantap hidangan khas Kazakztan bernama Beshbarmak. Makanan khas ini terbuat dari daging kuda yang sudah direbus hingga empuk,  dibumbui dengan garam dan merica dan disajikan bersama kentang, bawang bombai, dan rice paper. Mereka juga punya takjil khusus bernama Kurt, makanan khas Kazakztan yang terbuat dari susu dan garam yang dikeringkan. Meski rasanya sangat kuat dan kurang cocok di lidah saya, namun saya suka mencobanya.  Selepas menyantap hidangan utama berbuka ala Kazakztan saya juga  mencicipi teh khas Kazakztan.

Meski menjadi satu-satunya orang Indonesia dalam acara buka bersama tersebut, saya diperlakukan dengan sangat baik. Teman saya mengatakan “You just have to sit and eat, because this is the way how we treat people”. Momen berbuka puasa di rumah teman yang berasal dari negara berbeda selalu memberikan satu pelajaran budaya. Kami bertukar cerita tentang bagaimana tradisi ramadan dan Hari Raya Idul Fitri di Kazakztan dan Indonesia.

Berpuasa di negera lain memang sangat menantang tapi juga mengajarkan saya tentang bagaimana bertoleransi. Bukan toleransi meminta orang membatasi kegiatan makan dan minum saat berada di depan saya, namun justru lebih  menghormati orang yang tidak berpuasa.


Tulisan ini juga termuat di Koran Memo beberapa hari sebelum hari raya. Dimuat di sebuah  koran lokal dengan sirkulasi pembaca di Wilayah Se-Karesidenan Kediri. Biar orang-orang di daerah, terutama orang Trenggalek  juga bisa tahu potret berpuasa ala mahasiswa Indonesia di Inggris seperti apa.

image