Baymax

As everything is getting more difficult everyday, Im grateful to have Adi by my side. The one who check my condition periodically everyday, or even just listen to my grumble, sad stories and stressful stories everyday. Silently.. always thanking to God for sending him to me 😢.

Advertisements

🦉

People are asking me to be kind, to be a good person, forever

But what about them? What they did is just crap crap crap

Life is fair and equal

Isnt it? Yeah..

Things like this makes me want to put everything behind, and don’t want to care of them anymore

Really

Why are people so selfish

Go home for nobody.

Perhaps I miss my family, or I miss of having companionship at home. It’s nice to have people greeting at me as I arrive at home from work. A year living with two flatmates, Irfan and Vira made me get used to be surrounded by people in the house. The strong smells of Irfan’s cook in the kitchen near my room, and his greeting “Hi zaa, baru pulang?”. And the loud of Vira’s voices from the common room saying “Oi mba jaa, dari mana?”. The fact that now I am living in a room in a kos-kosan and…Nobody greets me as I arrive at home, no one even cares that I am home.

Lately, I feel like.. Im home for nobody..

Manusia dan Ke-absurd-annya

Hari ibu, dan orang masih saja berdebat tentang hal yang sama tiap tahunnya. Ihwal bagaimana seyogyanya memperingati hari ibu. Semua merasa benar, a merasa benar dan menyinyiri b, b merasa benar yang menyinyiri a. Begitu saja terus sampai hari ibu tahun berikutnya.

Sebentar lagi juga hari Natal. Dan aku juga yakin orang masih saja berdebat tentang boleh tidaknya ikut mengucapkan hari Natal bagi orang yang bukan nasrani. Semua merasa paling benar. Ada yang merasaa super paling benar.. mungkin dia lupa dia itu cuma manusia. Mana ada kebenaran di tangan manusia. Kebenaran cuma ada di langit.

Kenapa orang-orang masih saja sibuk mendebatkan hal-hal seperti itu. Berdebat soal hal-hal yang diperdebatkanpun tak ada gunanya. Berputar-putar saja.

Semacam berdebat ihwal apakah bumi datar atau bulat.

Kenapa tidak seperti kata kaesang, sang anak presiden:

.. semua juga tahu, yang bulat itu cuma tahu..

Manusia. Bumi ini absurd. Manusianya juga.

Bantar Gebang – The Land of Survival

Bertaruh Hidup di Bantar Gebang

Siang itu mendung bergelayut manja di atas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi. Namun pekatnya cuaca tidak menyurutkan ramainya suasana TPST yang menampung semua sampah dari ibukota Jakarta sejak tahun 1989 itu.

Lima buah alat berat, backhoe, terlihat sedang memindahkan sampah secara estafet dari bawah ke atas gunung sampah berketinggian sekitar 30-40 meter itu. Di sekitar backhoe, para pemulung bergerak kesana-kemari mencari sampah, dengan hanya bermodalkan sepatu boots, ganco, keranjang, dan kebanyakan bertelanjang tangan. Serbuan lalat, bau sampah yang menyengat, dan gerakan alat berat, tidak menjadi penghambat.

Bagi para pemulung di TPST Bantar Gebang, profesi yang mereka geluti mereka akui merupakan profesi yang beresiko tinggi. Apes sedikit, nyawa taruhannya. Sampah yang longsor, hantaman alat berat, paparan penyakit, hingga goresan benda tajam dari tumpukan sampah bisa menimpa mereka kapan saja.

Darka, 62 tahun, adalah salah satu pemulung yang pernah merasakan kerasnya tempaan TPST Bantar Gebang. Laki-laki asal Indramayu ini pernah menjadi korban hantaman bulldozer saat tengah mengais sampah di TPST itu pada tahun 1993.

“Bagian pinggang belakang saya hancur waktu itu terlindas bulldozer. Saya sembilan bulan cuma bisa tidur, enggak bisa apa-apa, sebagian daging dan bagian tulang saya hilang,” ujar Darka yang tinggal di rumah triplek di Kampung Rawa Butun, Ciketing Udik, 500 meter tak jauh dari lokasi bukit sampah.

“Rumah, tanah semua habis dijual untuk saya berobat. Saat itu dokter bilang kalaupun hidup paling ya lumpuh. Cuman karena mukzizat aya masih bisa hidup sampai sekarang ” ujarnya sambil menunjukkan bekas luka di lingkar pinggannya yang dalam dan memanjang.

Darka, bukan satu-satunya pemulung yang pernah mengalami kecelakaan kerja di kawasan TPST Bantar Gebang. Sejumlah kecelakaan yang memakan korban jiwapun sering terjadi. Pada awal tahun 2017, seorang pemulung tewas akibat tertimbun sampah buangan dari truk. Pada awal tahun 2016, dua orang pemulung tewas karena longsornya sampah. Mundur di tahun 2006, tiga orang dinyatakan tewas dan puluhan pemulung luka-luka akibat bencana yang sama. Bukit sampah yang setiap harinya harus menampung 7000 ton residu dari Jakarta tersebut memang rawan longsor, apalagi saat musim hujan tiba.

Lalan (48) adalah salah satu yang selamat dari kejadian longsor di TPST Bantar Gebang beberapa tahun lalu. “Waktu itu sebelumnya ada gempa bumi. Setelah itu tumpukan sampah longsor, retak. Udah kayak ombak turun ke bawah sampah itu. Waktu itu saya masuk ke lobang air yang muncul karena retakan sampah, saya beruntung bisa selamat karena bisa renang ke atas,” ujarnya.

Sementara itu Karyadi, 48, yang menjadi pemulung sejak berusia tujuh tahun mengatakan bahwa bekerja sebagai pemulung pada dasarnya memang soal bertahan.di tengah banyaknya cobaan keras di lapangan.

“Kita kalau mulung kalau enggak ahli atau takut-takut aja ya bisa enggak dapat apa-apa, bisa kena ganco saat rebutan sampah, jadi harus kuat,” ujar Karyadi yang biasa menghasilkan Rp 100.000,- per hari dari hasil memulung sampah.

Karyadi sendiri mangatakan meskipun dirinya sudah menggunakan pakaian dan sepatu boots yang cukup tebal, dirinya tak lepas dari bahaya di lapangan.“Saya pernah kena beling, tusuk sate sampai jarum suntik. Wah jarum suntik itu yang paling sakit, bikin bengkak dan infeksi selama berhari-hari,” ujarnya.

Meskipun rangkaian peristiwa yang mengancam keselamatan jiwa kerap terjadi di TPST Bantar Gebang, hal itu tidak membuat para pemulung di situ jera untuk mengais rejeki di sana. Kembali ke TPST tetap menjadi opsi, mengingat susahnya mencari pekerjaan lain.
“Saya kembali lagi ke buangan buat mulung tahun 1996. Ya gimana lagi, saya enggak sekolah, susah cari kerja,” ujar Darka, yang hanya sempat mengenyam pendidikan pondok pesantren.

Di luar resiko yang menghantui para pemulung setiap hari, keberadaan para pemulung di TPST Bantar Gebang sebenarnya berperan besar dalam proses pengelolaan sampah di Jakarta. Di tangan merekalah, sampah-sampah yang bercampur baur jenisnya ini bisa sedikit terpilah. Setidaknya sampah dengan bahan dasar yang tidak mudah terurai seperti plastik dan aluminium bisa dipisahkan dari sampah makanan dan kemudian bisa didistribusikan ke pabrik pengolahan dan pendaur-ulang sampah.

Di tengah stigma negatif yang sering dilabelkan untuk para pemulung, justru pemulunglah yang selama ini membantu masyarakat dalam memanajemen sampah. Selama budaya membuang sampah dan manajemen pembuangan sampah di Jakarta tetap buruk, masyarakat tetap berhutang jasa pada pemulung dan keahlian mereka dalam memilih dan memilah sampah untuk daur ulang. Maka sudah seharusnya negara membantu melindungi keberadaan dan keselamatan pemulung.

Pengadaan BPJS kesehatan bagi para pemulung yang dicanangkan oleh pemerintah DKI Jakarta memang bisa membantu beban para pemulung yang terkena musibah. Namun hal itu tidak akan menyelesaikan sumber masalah. Keselamatan kerja para pemulung di lapangan tetap terancam jika tidak ada perbaikan dari segi pembuangan sampah.

Dimulainya penerapan aturan pemilahan sampah dari rumah tangga, bisa menjadi solusi dan bisa memudahkan pemulung di lapangan saat memilih sampah. Setidaknya mereka tidak perlu lagi mencari sampah plastik rumah tangga di tumpukan sampah rumah sakit seperti jarum suntik. Pengklusteran landfill berdasar jenis sampah seperti sampah plastik, makanan, kertas dan aluminium, juga bisa meringankan proses memilah sampah oleh para pemulung di lapangan.

Di masa depan saat Indonesia sudah memiliki sistem manajemen sampah yang lebih memadai dengan lebih banyaknya insinerator sampah dan pabrik pengolahan sampah, bukan tidak mungkin para pemulung yang memiliki keahlian memilah-milah jenis sampah ini bisa diperkerjakan. Tentunya dengan pendapatan dan jaminan keselamatan kerja yang lebih layak dan aman.

 

*Ditulis setelah saya menjalani 3 hari live-in experience di salah satu rumah pemulung di Bantar Gebang. Three days..forever. 

Riza.

 

 

Tired

Akhirnya tiba juga masa dimana kamu merasa percuma dan sia-sia saja untuk bercerita kepada orang-orang soal apa masalahmu, apa yang mengusik hatimu, apa yang membuatmu sedih. Even your closest family, friend, even partner. Karena mereka toh tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi kamu. Apa yang kamu inginkan, apa yang kamu butuhkan.

Simply. Because people do not listen, they just focus on technical story, technical solution, technical suggestion. They do not listen to understand, they do listen to reply..

Right now, the only thing I want is just going back to Newcastle, attending my graduation, and hoping that I can stay there longer. The feeling of freedom, far away from home, far away from people, and just be yourself, be who you are, without people keep on judging around you.. is the best thing ever.

Im tired.

Just tired.

NCL

Missing Newcastle,

its Fall,

its weather,

its people,

its Quayside,

its Quilliam Brothers,

its city centre,

its ambience,

its nuance,

its romance,

NCL..

Jakarta,

3 November

2017.