what I miss of living in Newcastle?

I miss my daily life in Newcastle and I think this feeling won’t fade away. There are two things that I miss the most of living in Newcastle; its serenity.. and its calm pace of life. I miss walking and running through the pedestrian path along the New Bridge Street in the morning to catch journalism morning class. I miss stopping by for a while in Bubble Cha to buy Jasmine Milk Tea before an afternoon class. I miss entering the university’s Armstrong Building where most of my daily classes were taken place. I miss studying inside ARMB PC Cluster 2.96, listening to David Baines talking for hours about editing newspaper. I miss eating in Old Library Building canteen next to Armstrong building, eating a standard English breakfast for 4£ (also the cheapest proper meal there) with Marina in the canteen. I miss going to the city center which is only located about 200 yards away from my university building and seeing people walking around – selling flowers – selling fruits in the middle of city center’s alleyway. I miss going to the Grainger Market just to buy a cup of Americano and enjoying it alone while listening to people’s chattering in the market. I miss walking slowly towards my flat unit at St Anns Close, walking slowly while enjoying the calmness of the city.

The calm and peaceful St Anns Close, the two floor flat building where I lived with Elvira and Irfan, my flatmate. It was St’s Anns Close view after raining, so peaceful..

This was view from my room in one morning during Spring. One of my favorite view. There were so many mornings where I started by staring at this view before finally taking a bath and going to campus.

This was view behind my room’s window pane… Ahh..I dont know how to express this feeling, but I do really miss this view and spot.

This is my flat building’s alleyway, so peaceful. Its not a favorite place for young student to live.  This is a place where many elderly people are living. But me, vira and irfan were okay with it. Maybe because of the majority people who are living here are elderly, this flat is so peaceful. I will always miss this place.

This is a part of my university building. On the left side there is quadrangle, on the right side there is Armstrong building that I have mentioned earlier. This calm and peaceful view was university’s view during summer holiday, when most of students going away for vacation. But not for me, this time, I had three months intensive training with press association. Unlike others student who were mostly taking a vacation, I and my classmates had to go to the class everyday. I think I am going to write about my training days on my next blog post (hopefully).

A peaceful late Sunday afternoon at around Monument located in Newcastle’s city centre. The girl who brought white plastic bag was Elvira, my flatmate. On the weekend, we frequently  walking around the city centre, going to Grainger market to buy groceries, or going to Hi You, an Asian shop where we could buy Asian food and Asian’s ingredients, even Tempe…we could find it there.

This is Grainger Market, my favorite place in Newcastle. I cant count how many times I bumped to this market, purposely or just spontaneously.. Yeah just because I love this market so much. Instead of going to the mall (Newcastle Eldon Square), that is located next to the market, I prefer going to this market really. The old and  classic market where I could buy cheap and fresh vegetable and fruit and cofeee. How happy. The feeling of strolling around the Grainger Matket’s alley, I remember it clearly.

If I like you enough, I will definitely bring you to this coffee shop. This is my favorite coffee shop that I mentioned earlier before. I would be happy just by sitting here and enjoying a cup of Americano. The thing that makes like this coffee shop is the coffee taste is really good. I think Americano in Pumphrey is the best Americano so far that I have tasted. And also because the location is inside Grainger Market and that is just perfect (for me).

Advertisements

Satu manusia

Teruntuk manusia yang satu ini, semoga diberikan kesabaran. Satu, yang selalu menjadi manusia tempat berkeluh kesah nomor satu. Satu, yang selalu menjadi manusia sumber tawa sewaktu-waktu. Satu, yang selalu membuat jengkel di beberapa waktu. Satu, manusia yang menjadi teman saling bercerita setiap waktu. Satu-satunya..manusia yang ingin aku bawa, seandainya aku terdampar di pulau antah-berantah di satu waktu.

Jakarta, 29 April 2018

Dan satu manusia disana dia berada

Athens, Georgia, 28 April 2018

When in Portugal

iPhone keeps reminding me of happy moments during 2017. This is absolutely one of my fave, visiting Portugal and staying at Marina’s house, my Portuguese best friend. Visiting several places in Portugal; Pinhal Novo, Lisbon, Palmela, Porto. Going to the beach. Eating a lot of food, 🐟. You know what, Portuguese food is really good, a lot of seafood and fish. And also Marina’s friend and family were very nice to me and Xiaofeng. Among many European countries, I am glad that I have visited Portugal. Pretty miss that moment. Oh yes, staying at Marina’s house was definitely a different story to tell.. it was unforgettable when your friend house is surrounded by very wide grape and fruit farm in the countryside of Portugal. Just like Xiaofeng said: “we are staying at yellow beautiful mansion with beautiful farm view, its a privilege”. I think visiting a country with a local is different, it is beyond a ‘just’ trip. Miss those moments :”)

Too much to think in Jakarta (1)

Sebuah refleksi lima bulan di Jakarta.

Kota ini bukan tempat yang menyeramkan, justru kota ini tempat yang membuatku kasihan.

Kota ini terlalu lelah, untuk menahan semua beban orang yang ada di dalamnya yang memang sudah banyak yang susah.

Di kota ini terlalu banyak masalah. Dan masalah-masalah itu  tidak bisa hanya dipikirkan dari satu, dua, atau tiga sudut pandang saja..tapi harus dilihat dari 10 sudut pandang banyaknya.

Aku mungkin satu dari sedikit orang yang  berkenalan dengan kota Jakarta dengan cara  sederhana.

Aku berkenalan dengan Jakarta bukan dari gedung-gedung tinggi mewahnya. Aku berkenalan dengan Jakarta  dari kampung-kampung kecil di dalamnya.

Dari kampung-kampung kecil yang tak terlihat karena dikelilingi pabrik dan pergudangan yang hanya menyisakan satu meter jalan kecil akses untuk masuk ke dalam kampung itu.

Aku bukan berkenalan dengan Jakarta lewat orang-orang yang menyeruput kopi cantik dg rasa pas-pasan di cafe mall dengan harga kopi dan roti kemahalan itu.

Aku berkenalan dengan Jakarta lewat orang yang menyeruput es teh segar dari sebuah warung di dekat lokasi pembuangan sampah akhir Bantar Gebang, TPA di Bekasi yang menampung sampahnya orang Jakarta.

Menjadi jurnalis di Jakarta itu melelahkan. Bukan lelah fisiknya, tapi ikut lelah memikirkan nasib banyak orang,

banyak masalah, ketidaksinkronan,ketidak teraturan, keputusasaan. Tapi di tengah-tengah itu kota ini masih mengundang mimpi, menyulut harapan, dan menawarkan banyak kemungkinan.

Ditulis di Jakarta, kota dimana orang yang tinggal di dalamnya paling flexible di dunia dalam soal bodo amat dengan aturan, pula tak peduli kerapian, asal sampai tujuan. Seperti driver go-jek yang tak peduli harus jalan lawan arah, ngetem di badan jalan dekat stasiun Palmerah, hingga terobos sana meliuk liuk diantara truk-truk tronton besar.. tanpa peduli sama sekali bahwa dia sedang membonceng satu nyawa yang pasrah.
16 Maret 2018

So banyak yang harus dipikirin di Jakarta? Ya udah sih, senyumin dulu aja.

Go home for nobody.

Perhaps I miss my family, or I miss of having companionship at home. It’s nice to have people greeting at me as I arrive at home from work. A year living with two flatmates, Irfan and Vira made me get used to be surrounded by people in the house. The strong smells of Irfan’s cook in the kitchen near my room, and his greeting “Hi zaa, baru pulang?”. And the loud of Vira’s voices from the common room saying “Oi mba jaa, dari mana?”. The fact that now I am living in a room in a kos-kosan and…Nobody greets me as I arrive at home, no one even cares that I am home.

Lately, I feel like.. Im home for nobody..

Manusia dan Ke-absurd-annya

Hari ibu, dan orang masih saja berdebat tentang hal yang sama tiap tahunnya. Ihwal bagaimana seyogyanya memperingati hari ibu. Semua merasa benar, a merasa benar dan menyinyiri b, b merasa benar yang menyinyiri a. Begitu saja terus sampai hari ibu tahun berikutnya.

Sebentar lagi juga hari Natal. Dan aku juga yakin orang masih saja berdebat tentang boleh tidaknya ikut mengucapkan hari Natal bagi orang yang bukan nasrani. Semua merasa paling benar. Ada yang merasaa super paling benar.. mungkin dia lupa dia itu cuma manusia. Mana ada kebenaran di tangan manusia. Kebenaran cuma ada di langit.

Kenapa orang-orang masih saja sibuk mendebatkan hal-hal seperti itu. Berdebat soal hal-hal yang diperdebatkanpun tak ada gunanya. Berputar-putar saja.

Semacam berdebat ihwal apakah bumi datar atau bulat.

Kenapa tidak seperti kata kaesang, sang anak presiden:

.. semua juga tahu, yang bulat itu cuma tahu..

Manusia. Bumi ini absurd. Manusianya juga.

Bantar Gebang – The Land of Survival

Bertaruh Hidup di Bantar Gebang

Siang itu mendung bergelayut manja di atas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi. Namun pekatnya cuaca tidak menyurutkan ramainya suasana TPST yang menampung semua sampah dari ibukota Jakarta sejak tahun 1989 itu.

Lima buah alat berat, backhoe, terlihat sedang memindahkan sampah secara estafet dari bawah ke atas gunung sampah berketinggian sekitar 30-40 meter itu. Di sekitar backhoe, para pemulung bergerak kesana-kemari mencari sampah, dengan hanya bermodalkan sepatu boots, ganco, keranjang, dan kebanyakan bertelanjang tangan. Serbuan lalat, bau sampah yang menyengat, dan gerakan alat berat, tidak menjadi penghambat.

Bagi para pemulung di TPST Bantar Gebang, profesi yang mereka geluti mereka akui merupakan profesi yang beresiko tinggi. Apes sedikit, nyawa taruhannya. Sampah yang longsor, hantaman alat berat, paparan penyakit, hingga goresan benda tajam dari tumpukan sampah bisa menimpa mereka kapan saja.

Darka, 62 tahun, adalah salah satu pemulung yang pernah merasakan kerasnya tempaan TPST Bantar Gebang. Laki-laki asal Indramayu ini pernah menjadi korban hantaman bulldozer saat tengah mengais sampah di TPST itu pada tahun 1993.

“Bagian pinggang belakang saya hancur waktu itu terlindas bulldozer. Saya sembilan bulan cuma bisa tidur, enggak bisa apa-apa, sebagian daging dan bagian tulang saya hilang,” ujar Darka yang tinggal di rumah triplek di Kampung Rawa Butun, Ciketing Udik, 500 meter tak jauh dari lokasi bukit sampah.

“Rumah, tanah semua habis dijual untuk saya berobat. Saat itu dokter bilang kalaupun hidup paling ya lumpuh. Cuman karena mukzizat aya masih bisa hidup sampai sekarang ” ujarnya sambil menunjukkan bekas luka di lingkar pinggannya yang dalam dan memanjang.

Darka, bukan satu-satunya pemulung yang pernah mengalami kecelakaan kerja di kawasan TPST Bantar Gebang. Sejumlah kecelakaan yang memakan korban jiwapun sering terjadi. Pada awal tahun 2017, seorang pemulung tewas akibat tertimbun sampah buangan dari truk. Pada awal tahun 2016, dua orang pemulung tewas karena longsornya sampah. Mundur di tahun 2006, tiga orang dinyatakan tewas dan puluhan pemulung luka-luka akibat bencana yang sama. Bukit sampah yang setiap harinya harus menampung 7000 ton residu dari Jakarta tersebut memang rawan longsor, apalagi saat musim hujan tiba.

Lalan (48) adalah salah satu yang selamat dari kejadian longsor di TPST Bantar Gebang beberapa tahun lalu. “Waktu itu sebelumnya ada gempa bumi. Setelah itu tumpukan sampah longsor, retak. Udah kayak ombak turun ke bawah sampah itu. Waktu itu saya masuk ke lobang air yang muncul karena retakan sampah, saya beruntung bisa selamat karena bisa renang ke atas,” ujarnya.

Sementara itu Karyadi, 48, yang menjadi pemulung sejak berusia tujuh tahun mengatakan bahwa bekerja sebagai pemulung pada dasarnya memang soal bertahan.di tengah banyaknya cobaan keras di lapangan.

“Kita kalau mulung kalau enggak ahli atau takut-takut aja ya bisa enggak dapat apa-apa, bisa kena ganco saat rebutan sampah, jadi harus kuat,” ujar Karyadi yang biasa menghasilkan Rp 100.000,- per hari dari hasil memulung sampah.

Karyadi sendiri mangatakan meskipun dirinya sudah menggunakan pakaian dan sepatu boots yang cukup tebal, dirinya tak lepas dari bahaya di lapangan.“Saya pernah kena beling, tusuk sate sampai jarum suntik. Wah jarum suntik itu yang paling sakit, bikin bengkak dan infeksi selama berhari-hari,” ujarnya.

Meskipun rangkaian peristiwa yang mengancam keselamatan jiwa kerap terjadi di TPST Bantar Gebang, hal itu tidak membuat para pemulung di situ jera untuk mengais rejeki di sana. Kembali ke TPST tetap menjadi opsi, mengingat susahnya mencari pekerjaan lain.
“Saya kembali lagi ke buangan buat mulung tahun 1996. Ya gimana lagi, saya enggak sekolah, susah cari kerja,” ujar Darka, yang hanya sempat mengenyam pendidikan pondok pesantren.

Di luar resiko yang menghantui para pemulung setiap hari, keberadaan para pemulung di TPST Bantar Gebang sebenarnya berperan besar dalam proses pengelolaan sampah di Jakarta. Di tangan merekalah, sampah-sampah yang bercampur baur jenisnya ini bisa sedikit terpilah. Setidaknya sampah dengan bahan dasar yang tidak mudah terurai seperti plastik dan aluminium bisa dipisahkan dari sampah makanan dan kemudian bisa didistribusikan ke pabrik pengolahan dan pendaur-ulang sampah.

Di tengah stigma negatif yang sering dilabelkan untuk para pemulung, justru pemulunglah yang selama ini membantu masyarakat dalam memanajemen sampah. Selama budaya membuang sampah dan manajemen pembuangan sampah di Jakarta tetap buruk, masyarakat tetap berhutang jasa pada pemulung dan keahlian mereka dalam memilih dan memilah sampah untuk daur ulang. Maka sudah seharusnya negara membantu melindungi keberadaan dan keselamatan pemulung.

Pengadaan BPJS kesehatan bagi para pemulung yang dicanangkan oleh pemerintah DKI Jakarta memang bisa membantu beban para pemulung yang terkena musibah. Namun hal itu tidak akan menyelesaikan sumber masalah. Keselamatan kerja para pemulung di lapangan tetap terancam jika tidak ada perbaikan dari segi pembuangan sampah.

Dimulainya penerapan aturan pemilahan sampah dari rumah tangga, bisa menjadi solusi dan bisa memudahkan pemulung di lapangan saat memilih sampah. Setidaknya mereka tidak perlu lagi mencari sampah plastik rumah tangga di tumpukan sampah rumah sakit seperti jarum suntik. Pengklusteran landfill berdasar jenis sampah seperti sampah plastik, makanan, kertas dan aluminium, juga bisa meringankan proses memilah sampah oleh para pemulung di lapangan.

Di masa depan saat Indonesia sudah memiliki sistem manajemen sampah yang lebih memadai dengan lebih banyaknya insinerator sampah dan pabrik pengolahan sampah, bukan tidak mungkin para pemulung yang memiliki keahlian memilah-milah jenis sampah ini bisa diperkerjakan. Tentunya dengan pendapatan dan jaminan keselamatan kerja yang lebih layak dan aman.

 

*Ditulis setelah saya menjalani 3 hari live-in experience di salah satu rumah pemulung di Bantar Gebang. Three days..forever. 

Riza.