Food and Happiness

Someone said dont rely your happiness on someone. I think he’s right. From now, I will rely my happiness on food. Back to back to food again. Indeed..Food is the absolute happiness. Food never fails me. Food..will never hurt me. I love you food.

But then I realize that.. it is difficult to separate our happiness and the people around us. We smile because of them, we laugh because of them. And food..cant make it. I dont smile and laugh because of food.

Newcastle.

Rindu Sementara

Akhir-akhir ini entah kenapa aku rindu pada Surabaya. Kota dimana aku belajar dan bekerja selama  berproses dan setelah aku jadi sarjana. Aku rindu hal-hal sederhana. Sesederhana makan nasi pecel Mba Susi sendiri di pagi hari, sesederhana beli makan 8 ribu kenyang di Molas seminggu 3  kali, sesederhana ngopi dan cangkruk  di warung kopi sambil diskusi soal mimpi..kadang ideologi. Sesederhana melewati jalanan Surabaya di malam hari, dan sesederhana bermalas-malasan di kamar no.6 kosan Tante Hartono setiap minggu pagi.
Rindu yang sederhana. Di saat yang sama, rindu ini justru membuatku tidak ingin pulang segera. Sebaliknya aku masih ingin menjelajah dunia. Biarlah rindu ini aku rawat dulu.. sementara.

 

Aku ingin berpetualang dulu. Dan terus menanam rindu.

Newcastle 15-03-2017

Anak S1


Anak PPI Newcastle mayoritas merupakan mahasiswa undergradute. Kalau ikut acara kumpul-kumpulnya mereka, senang sendiri rasanya. Melihat mereka..bersemangat, ceria dan membara. Khas anak S1. Mengingatkanku saat masih S1 dulu. Dan saya merasa tidak sesemangat, seantusias, dan semenggebu-gebu seperti saat S1.. dulu. Apa cuma saya sendiri anak postgrad yang merasa begitu? Jawabannya tidak. Ini lucu. Banyak teman-teman postgrad lainnya yang juga merasakan hal yang sama. Kita antusias.. tapi secukupnya, kita ceria, juga secukupnya. Mungkin benar.. semakin tidak muda, semakin monoton pula melihat dunia. Tapi  bisa juga karena  kita sudah pernah merasakan fase-fase ‘Anak S1’ sebelumnya.  Aktif berorganisasi kanan-kiri, aktif bersosialisasi sana-sini,  sibuk beraktualisasi diri. Jadi sekarang saat melihat anak S1 dengan semangatnya yang sebegitu paling hanya bergumam “udah pernah kayak gitu, sekarang santai aja, nikmatin aja, udah cukup yang begituan”.
Berarti sama sama toh.. makin tua makin monoton. Jadi ingat analogi yang pernah dituliskan seorang kawan, tentang jenis olahraga dan usia. Saat muda.. kita di tahap main bola, bertambah usia kita main badminton, tuaan dikit ganti ke tenis, makin tua..main golf.  Hmm…The older we are, the more boring we could be. 

Bisa jadi..

Semoga salah..

Guru Bukan Dewa, Murid Bukan Kerbau

“Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau” – Soe Hok Gie

img_0842

Ya, guru bukan dewa dan murid bukan kerbau. Guru memang patut dihormati tapi bukan berarti selalu dibenarkan, dipuja dan dipuji. Murid juga bukan kerbau, kerbau yang dicucuk hidungnya, tak membantah, tak berdaya melawan, bisanya cuma mengikuti. Selama saya belajar di Newcastle, ungkapan “Guru bukan dewa, dan murid bukan kerbau” benar-benar saya pelajari. Tadi pagi saya tertegun melihat teman sekelas  menyampaikan pendapatnya, cenderung mengkritik cara mengajar salah satu pengajar  “I don’t pay thousands pounds to learn from handouts, or watching online tutorial on Youtube. I hope you can teach us, the very basic how to use this software, because I have no idea about this” . Sedikit keras, dengan ekspresi gusar, jengkel, kesal, sedikit marah..saat mengatakannya. Tapi yang jadi perhatian saya, bagaimana sikap pengajar tersebut menanggapi masukan dan kritikan itu. Dia mendengarkan, menyimak dengan baik, mengulangi masukan si mahasiswa, mengatakan akan memperbaiki cara mengajarnya. And more than that..he said “Thank you so much, it means a lot to me”.

Menerima masukan dan kritikan, sungguh tidak pernah menjadi hal mudah. Tapi dia menerimanya, dengan sangat terbuka. Saya bertanya apakah mayoritas pengajar Indonesia akan selegowo ini menerima kritik. Ataukah akan menjawab “Ini cara mengajaar saya, kalau anda tidak suka silahkan keluar”.

Saya tidak heran, kenapa mahasiswa di negara-negara maju lebih berani menyampaikan pendapatnya. Ya..karena mereka tidak diperlakukan sebagai kerbau yang harus terus tunduk. Di setiap kuliah saya selalu mengapreasiasi bagaimana pengajar mengapresiasi semua pendapat, masukan bahkan kritikan. Mereka juga mengapreasiasi anak didiknya secara merata tanpa berat sebelah atau memberi porsi khusus untuk satu-dua anak saja.

“Guru bukan dewa yang selalu benar, murid bukan kerbau”. Kemudian saya berusaha mengingat, pengajar-pengajar dari tingkat  dasar hingga perguruan tinggi di Indonesia yang mayoritas ingin diperlakukan setinggi-tingginya. Jangankan mau menerima kritik, tidak sedikit juga yang selalu ingin “dimengerti” dan kadang seenaknya. Terlebih..saat gelar lebih tinggi sudah disandangnya,

“Guru bukan dewa yang selalu benar, murid bukan kerbau”. Ini pengingat buat saya yang masih ingin menjadi  pengajar di masa depan.   Saat ini orang-orang yang menduduki posisi tinggi pendidikan di Indonesia memang mayoritas masih orang lama yang cenderung suka dihormati tapi kadang tidak mau menghormati kembali . Tapi semoga di masa depan akan lebih banyak pengajar di Indonesia yang mau menerima saran, kritik, dan mau kembali menghargai anak didiknya.. (secara merata).

Pendidikan dan insitusi pendidikan adalah tempat mencetak generasi bangsa. Maka engkau yang berperan sebagai pegajar tolong jangan seenaknya. Kalau ingin mencetak pemimpin bangsa, jangan pernah perlakukan anak didikmu seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.

Hak Diri

Percaya atau tidak, manusia kerap kehilangan hak atas dirinya sendiri. Kehilangan hak untuk hidup atas diri sendiri, sebagai manusia, seutuhnya. Seorang warga negara yang haknya kerap dikekang sistem di negara sendiri. Seorang umat yang hak dirinya kerap dibatasi norma dan aturan agama sendiri. Seorang istri yang hak dirinya kerap dibatasi suami, seorang suami yang hak dirinya kerap dibatasi istri. Seorang karyawan yang hak dirinya kerap didomiasi perusahaan tempat dia diberi gaji. Seorang anak yang hak dirinya kerap dikuasai orang tua sendiri. Mungkin sampai kapanpun, hak untuk memiliki diri kita sendiri tidak akan pernah kita dapatkan. Tapi aku tak masalah.. aku pikir kalau hak diriku untuk diriku sendiri aku akan jadi manusia paling egois di dunia ini. Dan satu lagi, manusia adalah makhluk sosial atau homo homini socius yang haknya pasti bersinggungan dengan hak manusia lainnya. Itulah cara kita hidup berdampingan selama ini.
Hak atas diri..mungkin selamanya tak akan pernah kita miliki secara hakiki. Kecuali kita mau hidup dalam hutan..seorang diri.

 

The Warm Newcastle

Newcastle.

Kota di ujung utara Inggris ini memang dingin. Sedingin angin yang menyambutku saat pertama kali aku keluar dari bandara Newcastle 20 September lalu, usai menempuh penerbangan 15 jam dari Indonesia (tidak termasuk transit di Dubai 8 jam lamanya). Tapi terima kasih Newcastle sudah menyambutku dengan cukup hangat. Dua minggu sudah aku menginjakkan kaki di sini. Sejauh ini tidak ada kesulitan yang berarti. Dua minggu pertama justru disibukkan dengan meyakinkan orang rumah kalau aku baik-baik saja di tempat baru ini. Menjadi anak rantau, sudah biasa. Mau lima jam dari rumah seperti antara Trenggalek-Surabaya atau sejauh inipun seperti Indonesia-Inggris Raya, ya sama saja. Toh kita sudah  dewasa. Jarak, bukankah justru jadi sarana dan ujian untuk benar-benar jadi dewasa yang sebenarnya.  Nikmati saja, sambil bersyukur tentunya. Semua ini pasti karena banyaknya doa yang mengiringiku berangkat ke sini. Jadi jangan jadi jumawa.

Alhamdulilah, aku baik-baik saja.

 

dscf1094

Para pemberi doa yang jumlahnya nggak kalah sama jumlah orang yang mau antar orang pergi haji. Terima kasih semuanya. Dan semua yang mendoakan meski orangnya tidak ada di foto ini. 

 

 

A talk

Dia sudah menunggu di depan terminal saat aku menginjakkan kaki kembali di kota kelahiranku, Trenggalek. Aku berjalan santai ke arahnya dan tanpa bicara sepatah katapun langsung masuk ke dalam mobil tempat dia menunggu. Tidak ada sapa, pun basa-basi basi. Nyatanya diam juga tak membunuh kami. Mobilpun perlahan melaju, aku buka sedikit jendelanya, sementara music player memutar lagu Clarity milik Zedd. Aku merasa lega dan lebih tenang. Menghirup udara kota kecil ini lagi, dan menikmatinya dalam diam. Menghilangkan kepenatan dan pikiran yang tak semestinya dipikirkan. 

“Jadi gimana lamaran baliknya? Lancar?” tanyaku padanya, setelah lima menit perjalanan kami menikmati diam.

“Alhamdulilah lancar,” ucapnya datar. Tapi aku bisa mencium antusiasme di dalam jawabannya. 

“Terus jadinya kapan?” tanyaku kembali

“22..22 April..tahun depan” jawabnya

“Kurang berapa bulan? Kok lama” tanyaku lagi.

“7 bulan, masih ada yang harus disiapin, yang sana mintanya bulan segitu” jawabnya.

“Yaah.. aku ngga bisa ikut nikahanmu”

“Ngga papa, ada whatsapp, Line, tak kirim fotonya”

Musik berganti, kali ini lagu One Dance milik Drake. Walaupun aku sedang dalam mood kalem, lagu ini nyatanya berhasil membuat tubuhku gerak-gerak sendiri. Seperti memahamiku, tiba-tiba dia menambah volume lagu itu. Membiarkanku menikmati lagu ini lebih lagi. Aku membuang senyum dan menikmati lagu ini beberapa saat. 

“Bakal ada pembangunan ikon kota Trenggalek lho, itu di situ, tapi masih kejutan gimana bentuknya” ujarnya sambil menunjuk tembok memanjang di pinggir jalan saat kendaraan yang kami naiki melewatinya.

“Di rumah masak apa?” tanyaku kemudian

“Seperti biasa, Gulai Kambing, ada Rawon juga” jawabnya.

Aku tersenyum, dan tidak sabar sampai rumah untuk menikmati masakan rumah di Hari Idul Adha ini. Percakapan dengannya pun menyenangkan..senang mendengar kabar darinya. Akhirnya si mas ducky lucky akan menikah juga. Ada rasa bahagia yang sulit digambarkan membayangkan saudara kandungmu akhirnya akan memulai babak baru dalam hidupnya.

Mobil masih melaju pelan, kami kembali menikmati diam. Dan pemutar musik memilih lagu yang tepat sekali untuk menutup percakapan singkat ini. It’s Not A Bad Thing – Justin Timberlake. 

No.. I wont fill your mind with broken promises and wasted time. And if you fall, you will always land right in these arms. These arms of mine. So its not a bad thing to fall in love with me..”

Mas Ducky Lucky yang akan menikah

I can rewrite conversation, clearly. Perhaps because I used to be a journalist and interviewed people. I can remember all details, all conversation I had with people, their wise words and all broken promises they have said to me.